Agnes tidak dapat menahan dirinya untuk berhenti menatap kedua gadis remaja tersebut sejak ia memasuki ruangan kelas. Mereka terlihat begitu akrab dan seperti tidak terpisahkan satu sama lain. Jika yang satu berdiri maka yang lain seperti akan tertarik dan mengikutinya. Lalu ia mengamati lebih seksama dan menyadari bahwa gadis yang lebih tinggi dan berwajah pucat itu terlihat mendominasi gadis yang satu lagi. Padahal temannya itu bertubuh lebih besar walau memang tidak setinggi gadis yang kurus itu. Ah, tetap harus ada yang memimpin rupanya, pikirnya.
Dilihatnya ketika remaja pria itu berjalan mendekati mereka berdua. Walau ia menyapa gadis yang lebih gemuk itu tapi matanya tidak terlepas dari gadis kurus di hadapannya. Agnes memperhatikannya dengan seksama dan …deg! Gadis yang kurus itu mendongak dan melontarkan pandangan mata yang tajam kearahnya. Sungguh suatu keajaiban dunia bahwa apapun yang dilakukan orang, mereka akan tetap merasakan pandangan mata yang tidak henti dari orang lain. Tidak seharusnya memang ia memperhatikan mereka terus menerus. Oh, bagaimana jika gadis itu menghampirinya? Kelihatannya ia bersiap hendak berdiri dan bahkan gadis yang lebih gemuk itu tidak dapat mencegahnya. Tapi remaja pria itu kelihatannya mengatakan sesuatu sehingga kedua gadis itu terlihat tenang. Dan bahkan tidak memperhatikannya lagi.
Tahu bahwa ia baru saja terhindar dari perselisihan, Agnes buru-buru memalingkan mukanya dan mengeluarkan peralatan menulis serta bukunya. Semoga saja gadis itu tidak melabraknya karena memperhatikannya sedari tadi. Dilepasnya kacamata yang menggantung berat di telinga dan sering merosot di hidungnya. Lalu Ia menenggelamkan dirinya dengan menundukkan kepala dalam-dalam seolah sedang berdoa. Di dengarnya seseorang meletakkan tas dengan kasar di bangku sebelahnya. Agnes mendongak dan mendapati seorang murid wanita meletakkan tasnya dengan cemberut. Kelihatannya murid itu kesal karena harus duduk di depan tapi karena ia terlambat maka tidak ada lagi tempat duduk yang tersisa.
Pelajaran pertama di tahun ajaran baru itu dimulai tidak lama kemudian sehingga ia tidak memikirkan hal itu lagi. Tidak banyak yang diajarkan oleh para guru karena umumnya mereka masih terlihat santai dan lebih banyak bertanya pada murid-murid. Sejauh mana mereka mengetahui tentang pelajaran ini. Apakah dulu di SMP mereka sempat diajarkan sejauh itu? Murid-murid terbawa menjadi tenang dan bahkan beberapa di antara mereka mulai saling sibuk sendiri.
Agnes tidak memperdulikan sama sekali apa yang dilakukan teman di sebelahnya. Ia mengira-ngira mungkin murid disebelahnya ini tidak suka duduk dengannya. Tapi bukan itu yang penting, pikirnya seraya kembali melemparkan pandangan kedua sahabat itu. Dan sungguh ia menyesal melakukan hal tersebut karena kali ini kembali dua gadis itu memergokinya. Gadis yang gemuk menatapnya dengan heran dan sepertinya wajahnya terlihat ingin tahu. Tapi tidak gadis yang disebelahnya yang terlihat seperti terganggu. Ia mulai merasa tidak enak dan yakin akan terjadi hal yang tidak disukainya.
Dan benar saja dugaannya itu. Begitu bel tanda istirahat berbunyi tanpa sempat dicegah oleh temannya, gadis yang kurus itu menghampiri mejanya dan bertolak pinggang. Matanya menyipit sehingga membuat wajahnya yang cantik itu bertambah dingin menakutkan.
“Orangtuamu tidak pernah mengajarkan bahwa tidak sopan melihat orang terus menerus?” tanpa basa basi ia langsung menyemburkan kata-kata. Kali ini gadis yang gemuk itu sudah menyusul dan ikut berdiri disamping sahabatnya. Tapi tidak terlihat lagi rasa ingin tahu itu melainkan pandangan mata yang merasa terganngu. Tidak sedingin pandangan mata sahabatnya, namun mendapat tatapan kesal dari dua pasang mata cukup menciutkan hati Agnes.
“Kita pernah satu sekolah ya? Tapi aku tidak ingat pernah melihatmu?” kali ini gadis yang gemuk itu bertanya dengan nada penasaran. “Lalu kalau kita tidak saling mengenal, mengapa kau memperhatikan kami terus?”
Melihat Agnes hanya diam memperhatikan mereka gadis yang kurus itu terlihat kehilangan kesabaran. Ia menggebrak meja dan meletakkan kedua tangannya di sana. Gadis kurus itu mencondongkan wajahnya menatap Agnes yang mengkeret di tempat duduknya. Wajahnya yang terlihat galak seolah siap menyantap Agnes itu mendadak tersenyum. Bukan senyuman ramah melainkan raut penuh cemooh terlihat penuh di wajahnya. Gadis yang kurus itu menegakkan badannya dan meraih pinggang gadis gemuk di sebelahnya.
“Amel,” rupanya itu nama panggilan gadis yang gemuk, pikir Agnes ditengah rasa malunya. Dirasakan wajahnya panas karena malu akibat tatapan mata dari para murid lain yang tidak jadi keluar kelas. Dimana-mana saat terjadi keributan maka para penonton akan siap menanti aksi yang berikutnya. Gadis yang kurus itu menyeringai ke temannya dan menoleh bersama ke arah Agnes.
“Kelihatannya dia sangat ingin menjadi teman kita berdua,” gadis yang kurus itu mencibir kepada Agnes. “Kalau tidak untuk apa dia melihat kita terus…”
Gadis yang dipanggil Amel itu memandangi Agnes sejenak sebelum menjawab,”Dua itu kombinasi yang okeh… Tiga itu sudah kebanyakan…”
Tiba-tiba remaja putra yang dipanggil Jamie itu menyeruak diantara kedua gadis itu,”Lalu aku gak bisa jadi teman kalian dong…”
Gadis yang kurus itu tergelak untuk pertama kalinya dan menyodok perut Jamie dengan bercanda,”Siapa bilang kami akan menjadikan kamu teman? Kamu tuh pengawal kami berdua! Terutama dari anak aneh seperti ini…”
Gadis yang kurus itu melemparkan kembali tatapan matanya yang tajam sebelum berkata.”Kami tidak ingin menjadi temanmu jadi berhentilah melemparkan pandangan bodoh dari mata empatmu ke arah kami, mengerti?!”
Dan setelah melemparkan pandangan mengejek sekali lagi, gadis kurus itu menarik lengan gadis yang bernama Amel tersebut. Mereka keluar dengan diikuti oleh remaja pria tersebut yang terus menggoda mereka berdua. Anak-anak di dalam kelas itu pun membubarkan diri setelah mereka melihat tidak ada kelanjutan dari ketegangan tadi. Kelas itu pun sunyi dari anak-anak murid lain kecuali Agnes.
Ia merasakan gelegak amarah di dadanya dan juga rasa malu. Sungguh ingin ia membalas kata-kata tajam dari gadis kurus itu tapi otaknya tidak bisa diajak bekerja sama. Dan sekarang ia juga merasa malu karena menjadi tontonan teman-teman sekelasnya. Di hari pertama pula di sekolah ini! Dikeluarkannya saputangan dari dalam tasnya dan disekanya keringat yang mengalir di wajahnya. Dengan kesal disambarnya kacamata dari wajahnya dan setengah melemparnya di meja. Tidak diperhatikannya kalau kacamatanya nyaris terlempar dan sekarang tengah berada di ujung meja.
“Tunggu saja “ desisnya dalam hati seraya mengepalkan tangannya. “Akan kubuat kalian menarik kembali kata-kata itu… Lihat saja nanti…”
0 komentar:
Poskan Komentar